Mengetahui 5 Tanda Alam Jelang Tsunami Beserta Cara Menyelamatkan Diri
ALAT buoy pendeteksi tsunami diklaim Badan Nasional Penganggulangan
Bencana (BNPB) tidak lagi berfungsi. Hal ini membuat publik
mempertanyakan tanggung jawab pemerintah dalam menjaga keselamatan
warga.
"Sejak 2012, buoy tsunami sudah tidak ada yang beroperasi," kata
Kepala Pusat Data, Informasi, dan Humas BNPB Sutopo Purwo Nugroho,
Minggu 30 September 2018.
BERITA TERKAIT +
Buoy adalah pelampung suar dengan sensor untuk mengukur ketinggian
permukaan air laut, dan memberikan informasi peringatan dini tsunami
ke institusi terkait.
Saat gempa 7,4 skala Richter (SR) menimpa Donggala dan Palu pada Jumat
28 September, sekira pukul 17.02 WIB, Badan Meteorologi, Klimatologi,
dan Geofisika (BMKG) mengeluarkan peringatan dini tsunami. Tsunami
disebut akan sampai pada pukul 17.22 WIB.
(Baca juga: Mengenal Likuifaksi, Melarutnya Tanah di Kota Palu dan Sekitarnya)
Kemudian karena waktu terlewati, peringatan dini pun dicabut pada
pukul 17.36 WIB. Beberapa menit setelah pencabutan ini, tsunami
menerjang Kota Palu dengan ketinggian sekira 1,5 meter.
Dengan "tidak beroperasinya" alat pendeteksi tsunami dan melesetnya
peringatan dini, lalu dengan apa lagi masyarakat tahu bahwa tsunami
akan menerjang sehingga bisa menyelamatkan diri?
VOA Indonesia pun merangkum sejumlah tanda-tanda alam jelang
terjadinya tsunami dan apa yang bisa dilakukan untuk menyelamatkan
diri.
Gempa Besar
Gempa bumi yang berpusat di bawah laut adalah salah satu penyebab
utama tsunami. Selain gempa bumi, menurut Badan Penanggulangan Bencana
Daerah (BPBD), tsunami bisa diakibatkan oleh runtuhan di dasar laut
atau letusan gunung api di laut.
Jadi jika masyarakat berada di sekitar pantai dan merasakan gempa
besar atau lama (lebih dari 1 menit), sebaiknya bersiap dan langsung
menyelamatkan diri. Lalu gempa sebesar apa yang bisa mengakibatkan
tsunami?
Pertanyaan ini sulit dijawab. Namun berdasarkan data tsunami yang
terjadi di berbagai penjuru dunia dalam dua dekade terakhir, tsunami
diakibatkan gempa dengan kekuatan mulai dari 6,2 SR.
(Baca juga: Gempa 5,3 SR Kembali Melanda Donggala, Tidak Berpotensi Tsunami)
Gempa bumi 6,2 SR di Christchurch, Selandia Baru, pada 2011,
mengakibatkan tsunami setinggi 3,5 meter dan menewaskan total 185
orang.
Sementara tsunami di Aceh pada 2004 yang menewaskan lebih 200 ribu
jiwa di 12 negara, disulut gempa bumi dengan kekuatan 9,1 hingga 9,3
SR.
Melalui fakta bahwa Indonesia berada di wilayah Cincin Api (memiliki
banyak gunung api dan titik pertemuan sejumlah lempeng bumi),
kesiapsiagaan warganya atas ancaman gempa dan tsunami juga sangat
diperlukan.
Sebelumnya
1 / 4
Sumber: http://news.okezone.com/read/2018/10/02/337/1958386/mengetahui-5-tanda-alam-jelang-tsunami-beserta-cara-menyelamatkan-diri
Bencana (BNPB) tidak lagi berfungsi. Hal ini membuat publik
mempertanyakan tanggung jawab pemerintah dalam menjaga keselamatan
warga.
"Sejak 2012, buoy tsunami sudah tidak ada yang beroperasi," kata
Kepala Pusat Data, Informasi, dan Humas BNPB Sutopo Purwo Nugroho,
Minggu 30 September 2018.
BERITA TERKAIT +
Buoy adalah pelampung suar dengan sensor untuk mengukur ketinggian
permukaan air laut, dan memberikan informasi peringatan dini tsunami
ke institusi terkait.
Saat gempa 7,4 skala Richter (SR) menimpa Donggala dan Palu pada Jumat
28 September, sekira pukul 17.02 WIB, Badan Meteorologi, Klimatologi,
dan Geofisika (BMKG) mengeluarkan peringatan dini tsunami. Tsunami
disebut akan sampai pada pukul 17.22 WIB.
(Baca juga: Mengenal Likuifaksi, Melarutnya Tanah di Kota Palu dan Sekitarnya)
Kemudian karena waktu terlewati, peringatan dini pun dicabut pada
pukul 17.36 WIB. Beberapa menit setelah pencabutan ini, tsunami
menerjang Kota Palu dengan ketinggian sekira 1,5 meter.
Dengan "tidak beroperasinya" alat pendeteksi tsunami dan melesetnya
peringatan dini, lalu dengan apa lagi masyarakat tahu bahwa tsunami
akan menerjang sehingga bisa menyelamatkan diri?
VOA Indonesia pun merangkum sejumlah tanda-tanda alam jelang
terjadinya tsunami dan apa yang bisa dilakukan untuk menyelamatkan
diri.
Gempa Besar
Gempa bumi yang berpusat di bawah laut adalah salah satu penyebab
utama tsunami. Selain gempa bumi, menurut Badan Penanggulangan Bencana
Daerah (BPBD), tsunami bisa diakibatkan oleh runtuhan di dasar laut
atau letusan gunung api di laut.
Jadi jika masyarakat berada di sekitar pantai dan merasakan gempa
besar atau lama (lebih dari 1 menit), sebaiknya bersiap dan langsung
menyelamatkan diri. Lalu gempa sebesar apa yang bisa mengakibatkan
tsunami?
Pertanyaan ini sulit dijawab. Namun berdasarkan data tsunami yang
terjadi di berbagai penjuru dunia dalam dua dekade terakhir, tsunami
diakibatkan gempa dengan kekuatan mulai dari 6,2 SR.
(Baca juga: Gempa 5,3 SR Kembali Melanda Donggala, Tidak Berpotensi Tsunami)
Gempa bumi 6,2 SR di Christchurch, Selandia Baru, pada 2011,
mengakibatkan tsunami setinggi 3,5 meter dan menewaskan total 185
orang.
Sementara tsunami di Aceh pada 2004 yang menewaskan lebih 200 ribu
jiwa di 12 negara, disulut gempa bumi dengan kekuatan 9,1 hingga 9,3
SR.
Melalui fakta bahwa Indonesia berada di wilayah Cincin Api (memiliki
banyak gunung api dan titik pertemuan sejumlah lempeng bumi),
kesiapsiagaan warganya atas ancaman gempa dan tsunami juga sangat
diperlukan.
Sebelumnya
1 / 4
Sumber: http://news.okezone.com/read/2018/10/02/337/1958386/mengetahui-5-tanda-alam-jelang-tsunami-beserta-cara-menyelamatkan-diri